Makassar, – Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Sufriadi Arif, menyampaikan apresiasi kepada aparat TNI dan tim pemadam kebakaran yang sigap berkontribusi dalam mengantisipasi serta menanggulangi kebakaran gedung DPRD di Makassar, Jumat (29/08) malam hingga Sabtu (30/08) dini hari.
Menurutnya, langkah cepat aparat di lapangan mampu mencegah situasi semakin memburuk di tengah eskalasi demonstrasi yang berujung ricuh. Sufriadi bahkan mengaku sempat berada dalam posisi terancam saat massa mendatangi rumah jabatan (rujab) Wakil Ketua DPRD Sulsel.

“Rumah jabatan saya digedor oleh massa. Saat itu saya langsung menghubungi perwira Marinir untuk membantu pengamanan. Alhamdulillah, pasukan TNI bersama aparat lainnya cepat merespons,” ujar Sufriadi Arif yang juga Ketua DPC PPP Kabupaten Wajo.
Meski tragedi pembakaran dua gedung parlemen meninggalkan luka mendalam, Sufriadi berharap peristiwa itu tidak meluas dan menimbulkan konflik baru. Ia menyerukan agar seluruh pihak menahan diri dan menjaga Sulawesi Selatan tetap kondusif.

“Saya mengajak masyarakat untuk sama-sama menjaga keamanan dan kedamaian. Jangan biarkan peristiwa ini menjadi pemicu perpecahan,” tegasnya.
Bagi Sufriadi, tragedi ini menjadi pelajaran penting agar semua pihak lebih mengutamakan dialog ketimbang tindakan anarkis. Ia menegaskan, peran aparat yang tetap sigap dan profesional layak diapresiasi di tengah ancaman kericuhan yang bisa merembet lebih luas.
Seperti diketahui, aksi demonstrasi di Makassar pada Jumat malam berujung pada tragedi. Dua gedung parlemen terbakar, yakni Kantor DPRD Kota Makassar di Jalan AP Pettarani dan Kantor DPRD Provinsi Sulsel di Jalan Urip Sumoharjo. Kerusuhan ini memicu kepanikan, menelan korban jiwa, serta mengakibatkan puluhan kendaraan dan fasilitas terbakar.
Di DPRD Kota Makassar, pembakaran terjadi saat rapat paripurna pembahasan APBD Perubahan 2025 masih berlangsung. Massa menerobos halaman gedung, membakar kendaraan, hingga merembet ke sayap kanan gedung utama. Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin bersama sejumlah pejabat bahkan harus dievakuasi menggunakan sepeda motor melalui pintu belakang.
Belum tuntas kepanikan di Pettarani, massa bergerak ke Kantor DPRD Provinsi Sulsel. Sekitar pukul 00.37 Wita, kerusuhan kembali pecah. Massa melempari pos jaga dengan batu, membakar kendaraan, hingga melempar bom molotov ke arah gedung utama. Kobaran api cepat menjalar, asap hitam membubung, sementara petugas pemadam yang tiba kemudian berupaya keras mengendalikan situasi.(*)




